Karawang | Jelajahdesa.click – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Singaperbangsa Karawang (BEM UNSIKA) merilis sebuah pernyataan sikap yang menuai perhatian publik karena memuat narasi kontroversial terkait korupsi dan kondisi pemerintahan.
Dalam pernyataan yang diterbitkan BEM UNSIKA, organisasi mahasiswa tersebut menggunakan tajuk “Mendukung Pemerintah dan Aparat Negara untuk Korupsi Sebanyak-banyaknya agar Negara Tumbang dan Diambil Alih Kaum Muda.” Namun, isi pernyataan tersebut bukan merupakan dukungan harfiah terhadap praktik korupsi, melainkan kritik yang disampaikan melalui gaya retorika satir terhadap kondisi sosial dan politik.
Presiden Mahasiswa BEM UNSIKA, Beryl Geovanni Xenoglosi, dalam pernyataan yang dikutip BEM UNSIKA menyebut bahwa upaya memperbaiki sistem melalui tuntutan moral dinilai tidak lagi cukup apabila akar persoalan tidak diselesaikan.
Menuntut sistem ini untuk jujur adalah ilusi yang memperpanjang penderitaan. Jika pembusukan adalah kepastian, maka tugas sejarah bukan memperlambatnya, melainkan mempercepat pembusukan itu hingga runtuh,” demikian kutipan pernyataan yang disampaikan.
BEM UNSIKA juga menyampaikan pandangan bahwa krisis yang terjadi akibat korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan dinilai dapat memicu perubahan sistem secara menyeluruh. Dalam narasinya, organisasi tersebut menyebut kehancuran sistem lama sebagai momentum bagi generasi muda untuk membangun tatanan baru yang dinilai lebih adil.
Pernyataan tersebut menggunakan bahasa yang provokatif, seperti ajakan untuk membiarkan praktik korupsi berlangsung hingga sistem mengalami kehancuran total. Meski demikian, keseluruhan isi pernyataan lebih mengarah pada kritik terhadap praktik korupsi, oligarki, dan tata kelola pemerintahan yang dinilai bermasalah, bukan sebagai ajakan nyata untuk melakukan tindak pidana korupsi.
Hingga berita ini ditulis, belum terdapat tanggapan resmi dari pihak Universitas Singaperbangsa Karawang maupun instansi terkait mengenai pernyataan sikap yang dirilis BEM UNSIKA tersebut.
Pernyataan itu sendiri memicu beragam respons di ruang publik. Sebagian pihak menilai narasi yang digunakan merupakan bentuk kritik politik melalui satire, sementara pihak lain menilai pemilihan diksi yang digunakan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman apabila dibaca tanpa memahami konteks keseluruhan.
(Sumber: Pernyataan Sikap BEM UNSIKA)



